Sebuah kehormatan bagi Komunitas Blogger Makassar “Anging Mammiri” mendapat undangan untuk menghadiri Takabonerate Islands Expedition 2011 (TIE). Saya adalah salah satu dari 9 personil AM yang diutus. Kesempatan bertemu dengan kesiapan, itulah keberuntungan. Menjadi salah satu peserta TIE merupakan sebuah keberuntungan bagi saya. Bagaimana tidak? saya bisa menikmati langsung indahnya kawasan Taman Nasional Taka Bonerate yang biasanya hanya saya lihat di dunia maya.
Pukul 09.15 WITA, tepatnya tanggal 17 November 2011, sebenarnya kami berangkat lebih awal karena adanya perubahan jadwal. Bus “Aneka” berangkat dari terminal Mallengkeri dan mengantarkan kami ke terminal Benteng, Selayar. Kapasitas bus tersebut adalah 50 kursi, namun diisi sekitar 60 orang dengan menduduki kardus yang diletakkan disela kursi penumpang. Hal ini menjadikan perjalanan lebih lama karena bus beberapa kali harus berhenti untuk menaikkan penumpang. Sekitar pukul 13.00 WITA, bus berhenti untuk makan siang pada salah satu warung makan di daerah Bulukumba dan kembali melanjutkan perjalanan pada pukul 13.40 WITA.
2 jam kemudian, kami pun tiba di Pelabuhan Bira. Biasanya kapal feri merapat sekitar pukul 16.00 WITA, namun saat itu kapal feri yang akan membawa kami ke Pulau Selayar mengalami keterlambatan. Untuk mengisi waktu, kami beristirahat sejenak di warung yang terletak disekitar pelabuhan. Beberapa teman memanfaatkannya untuk mengisi baterai gadget, dan tentunya dengan membeli minuman dan makanan ringan di warung itu.
KMP Belida sudah berlabuh, kami bergegas naik ke atas bus. Untuk masuk ke dalam kapal feri, kami harus mengantri karena begitu banyak kendaraan yang akan menyeberang ke Pulau Selayar, baik itu sepeda motor, mobil pribadi, bus kecil dan bus besar. Sekitar pukul 17.20 WITA, barulah kapal feri tersebut bergerak menuju Pulau Selayar. Ini kali kedua saya naik kapal feri. Terakhir naik kapal feri ketika saya masih SD. Hemm.. sudah lama sekali yaa?
Matahari sudah hampir masuk ke dalam peraduannya. Begitu indah, begitu memesona, dan begitu berbeda. Berbeda karena kami dapat menikmatinya di atas kapal feri dan di tengah laut lepas, tanpa penghalang tembok-tembok raksasa yang menjulang tinggi. Beberapa teman siap merekam dengan kamera DLRS-nya dan saya pun siap jadi modelnya.
Matahari sudah tenggelam, tapi bulan masih bersembunyi, hanya bintang yang bertaburan di langit yang memberi kami penerangan. Kami masih berada di geladak kapal feri untuk menikmati angin laut dan tenggelam dalam renungan masing-masing. Entah apa yang mereka pikirkan, yang saya tahu, saya sempat tertidur duduk di ujung geladak. Tak terasa kami pun tiba di Pelabuhan Pamatata pada pukul 19.25 WITA dan turun dari kapal feri dengan tertib bersama penumpang lainnya.
Kami melanjutkan perjalanan darat menuju Benteng, ibukota kabupaten kepulauan Selayar. Kurang lebih 1 jam, kami pun sampai di Terminal Benteng. Dua mobil telah menunggu kedatangan kami. Ternyata mereka adalah Pak Sharben dari Sileya Scuba Diver dan staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Selayar. Mereka membawa kami ke rumah makan Padang yang terletak di depan Lapangan Pemuda Benteng, setelah itu berkunjung ke Tinabo Dive Center (TDC) yang hanya berjarak dua ruko dari tempat kami makan malam.
Di TDC, kami bertemu dengan Pak Jamil, Mbak Evy, dan Mbak Ina. Mereka lalu menjelaskan beberapa peralatan snorkeling dan diving, juga jadwal untuk melakukan intro dive di Pulau Tinabo. Ternyata TDC juga menyewakan penginapan (kamar tidur+ruang tamu) seharga Rp 250.000/malam yang terletak di lantai 2 kantor mereka. Tamu akan disuguhkan dengan pemandangan laut dan Lapangan Pemuda Benteng yang ramai pengunjung.
Tubuh sudah mulai letih tapi kami harus berkunjung ke rumah Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kep. Selayar, Bapak Andi Mappagau. Kami memperkenalkan diri satu per satu. Kopi dan pisang goreng sebagai pelengkap pada diskusi singkat kami malam itu. Beliau mengungkapkan beberapa kendala dan harapannya dalam penyelenggaraan Takabonerate Islands Expedition tahun ini. Beliau juga berharap, para Divers dapat berperan serta dalam mengidentifikasi sumber daya pada kawasan Taka Bonerate dan Bloggers dapat membantu mempromosikan keindahan Taman Nasional Taka Bonerate.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WITA ketika kami sampai di penginapan. Hanya menyimpan barang bawaan dan mandi, lalu kami pergi lagi di jemput oleh Pak Ben. Mobil yang membawa kami berhenti tepat di depan sebuah kafe. Kafe Tempat Biasa namanya. Kafe yang dibangun oleh Sileya Scuba Driver (SSD) sebagai tempat berkumpul untuk berbagi ide dan menuangkan gagasan tentang dunia kemaritiman. Terdapat pula toko ole-ole Lantigiang yang juga merupakan sumber dana untuk melakukan beberapa kegiatan SSD, seperti beach clean up, promosi perlindungan sumberdaya alam pesisir dan laut, transplantasi karang, konservasi penyu, penghijauan pantai, dan bakti sosial lainnya.
Kafe Tempat Biasa terletak di Jalan Siswo Miharjo no. 100, kira-kira berjarak 2 km dari tepi pantai Kota Benteng, Selayar. Kafe tersebut juga merupakan pick-up point DiveMag. “Sileya diambil dari bahasa Sansakerta yang merujuk pada kepulauan Selayar, sedangkan dalam bahasa lokal, Selayar disebut Silajara’,”kata Pak Ben dalam diskusi malam itu. Banyak ilmu yang kami dapatkan dalam diskusi yang sangat akrab itu. Sayangnya, kami harus kembali ke penginapan untuk beristirahat, mengisi tenaga agar stamina kami kembali pulih untuk kegiatan esok harinya.





